ANTIHISTAMIN
Pada tahun
1940 untuk pertama kali diperkenalkan obat antihistamin. Sejak itu secara luas
digunakan dalam pengobatan simtomatik penyakit alergi. Pada umumnya
antihistamin yang beredar di Indonesia mempunyai spektrum luas artinya
mempunyai efek lain seperti antikolinergik, anti serotonin, antibradikinin dan
alfa adrenoreseptor bloker. Golongan obat ini disebut antihistamin (AH1)
klasik. Penderita yang mendapat obat AH1 klasik akan menimbulkan efek samping,
mengantuk, kadang-kadang timbul rasa gelisah, gugup dan mengalami gangguan
koordinasi. Efek samping ini sering menghambat aktivitas sehari-hari, dan
menimbulkan masalah bila obat antihistamin ini digunakan dalam jangka panjang.
Dekade ini muncul antihistamin baru yang digolongkan ke dalam kelompok AH1
sedatif yang tidak bersifat sedasi, yang memberikan harapan cerah.
PENGERTIAN
Antihistamin (antagonis
histamin) adalah zat yang mampu mencegah penglepasan atau kerja histamin.
Istilah antihistamin dapat digunakan untuk menjelaskan antagonis histamin yang
mana pun, namun seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk kepada
antihistamin klasik yang bekerja pada reseptor histamin H1(Anief,1995)
Antihistamin ini
biasanya digunakan untuk mengobati reaksi alergi, yang disebabkan oleh
tanggapan berlebihan tubuh terhadap alergen (penyebab alergi), seperti serbuk
sari tanaman. Reaksi alergi ini menunjukkan penglepasan histamin dalam jumlah
signifikan di tubuh.
MACAM-MACAM ANTIHISTMIN
Menurut Tjay(2007) macam-macam antihistamin yaitu :
1. Antihistamin (AH1) non sedatif.
a. Terfenidin
Merupakan suatu
derivat piperidin, struktur kimia. Terfenidin diabsorbsi sangat cepat dan
mencapai kadar puncak setelah 1-2 jam pemberian. Mempunyai mula kerja yang
cepat dan lama kerja panjang. Obat ini cepat dimetabolisme dan didistribusi
luas ke berbagai jaringan tubuh. Terfenidin diekskresi melalui faeces (60%) dan
urine (40%). Waktu paruh 16-23 jam. Efek maksimum telah terlihat sekitar 3-4
jam dan bertahan selama 8 jam setelah pemberian. Dosis 60 mg diberikan 2 X
sehari.
b. Astemizol
Merupakan
derivat piperidin yang dihubungkan dengan cincin benzimidazol, struktur kimia.
Astemizol pada pemberian oral kadar puncak dalam darah akandicapai setelah 1
jam pemberian. Mula kerja lambat, lama kerja panjang. Waktu paruh 18-20 hari. Di
metabolisme di dalam hati menjadi metabolit aktif dan tidak aktif dan di
distriibusi luas keberbagai jaringan tubuh. Metabolitnya diekskresi sangat
lambat, terdapat dalam faeses 54% sampai 73% dalam waktu 14 hari. Ginjal bukan
alat ekskresi utama dalam 14 hari hanya ditemukan sekitar 6% obat ini dalam
urine. Terikat dengan protein plasma sekitar 96%.
c. Mequitazin
Merupakan
suatu derivat fenotiazin, struktur kimia lihat Gbr.1. Absorbsinya cepat pada
pemberian oral, kadar puncak dalam plasma dicapai setelah 6 jam pemberian.
Waktu paruh 18 jam, Onset of action cepat, duration of action lama. Dosis 5 mg
2 X sehari atau 10 mg 1 X sehari (malam hari).
d. Loratadin
Adalah
suatu derivat azatadin, struktur kimia. Penambahan atom C1 meninggikan potensi
dan lama kerja obat loratadin. Absorbsinya cepat. Kadar puncak dicapai setelah
1 jam pemberian. Waktu paruh 8-11 jam, mula kerja sangat cepat dan lama kerja
adalah panjang. Waktu paruh descarboethoxy-loratadin 18-24 jam. Pada pemberian
40 mg satu kali sehari selama 10 hari ternyata mendapatkan kadar puncak dan
waktu yang diperlukan tidak banyak berbeda setiap harinya hal ini menunjukkan
bahwa tidak ada kumulasi, obat ini di distribusi luas ke berbagai jaringan
tubuh. Matabolitnya yaitu descarboetboxy-loratadin (DCL) bersifat aktif
secara farmakologi clan juga tidak ada kumulasi. Loratadin dibiotransformasi
dengan cepat di dalam hati dan di ekskresi 40% di dalam urine dan 40% melalui
empedu. Pada waktu ada gangguan fiungsi hati waktu paruh memanjang. Dosis yang
dianjurkan adalah 10 mg 1 X sehari.
2. Terdapat beberapa jenis antihistamin, yang dikelompokkan berdasarkan
sasaran kerjanya terhadap reseptor histamin.
a. Antagonis Reseptor Histamin H1
Secara klinis
digunakan untuk mengobati alergi. Contoh obatnya adalah: difenhidramina,
loratadina, desloratadina, meclizine, quetiapine (khasiat antihistamin
merupakan efek samping dari obat antipsikotik ini), dan prometazina.
b. Antagonis Reseptor Histamin H2
Reseptor histamin
H2 ditemukan di sel-sel parietal. Kinerjanya adalah meningkatkan sekresi asam
lambung. Dengan demikian antagonis reseptor H2 (antihistamin H2) dapat
digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung, serta dapat pula dimanfaatkan
untuk menangani peptic ulcer dan penyakit refluks gastroesofagus. Contoh
obatnya adalah simetidina, famotidina, ranitidina, nizatidina, roxatidina, dan
lafutidina.
c. Antagonis Reseptor Histamin H3
Antagonis H3
memiliki khasiat sebagai stimulan dan memperkuat kemampuan kognitif.
Penggunaannya sedang diteliti untuk mengobati penyakit Alzheimer's, dan
schizophrenia. Contoh obatnya adalah ciproxifan, dan clobenpropit.
d. Antagonis Reseptor Histamin H4
Memiliki khasiat
imunomodulator, sedang diteliti khasiatnya sebagai antiinflamasi dan analgesik.
Contohnya adalah tioperamida.Beberapa obat lainnya juga memiliki khasiat antihistamin. Contohnya
adalah obat antidepresan trisiklik dan antipsikotik. Prometazina adalah obat
yang awalnya ditujukan sebagai antipsikotik, namun kini digunakan sebagai
antihistamin.
Senyawa-senyawa lain seperti cromoglicate dan nedocromil, mampu mencegah
penglepasan histamin dengan cara menstabilkan sel mast, sehingga mencegah
degranulasinya.
Fenotiazin
Farmakodinamik : Salah satu derivat dari fenotiazin adalah Klorpromazin (CPZ) adalah 2-klor-N-(dimetil-aminopropil)-fenotiazin. Derivat fenotiazin lain dapat dengan cara substitusi pada tempat 2 dan 10 inti fenotiazin.CPZ (largactill) berefek farmakodinamik sangat luas. Largactill diambil dari kata large action.Sususan Saraf Pusat : CPZ menimbulkan efek sedasi disertai sikap acuh tak acuh terhadap rangasangan lingkungan. Pada pemakaina lama dapat timbul toleransi terhadap efek sedasi. Timbulnya sedasi amat tergantung dari status emisinal penderita sebelum minum obat. Klorpromazin berefek antispikosis terlepas dari efek sedasinya. CPZ menimbulkan efek menenangkan pada hewan buas. Efek ini juga dimiliki oleh obat obat lain, misalnya barbiturat, narkotij, memprobamat, atau klordiazepoksid. Bebeda dengan barbiturat, CPZ tidak dapat mencengah timbulnya konvulsi akibat rangsang listrik maupun rangsang obat. Semua derivat fenotiazin mempengaruhi gangglia basal, sehimgga menimbulkan gejala parkinsonisme (efek ekstrapiramidal ).CPZ dapat mempengaruhi atau mencengah muntah yang disebabkan oleh rangsangan pada chemo reseptor trigger zone. Muntah disebabkan oleh kelainan saluran cerna atau vestibuler.fenotiazin terutama yang potensinya rendah menurunkan ambang bangkitan sehingga penggunanya pada pasien epilepsi harus berhati-hati. Otot Rangka: CPZ dapat menimbulkan relaksasi otot skelet yang berada daam keadaan spastik. Cara kerjanya relaksasi ini diduga bersifat sentral, sebab sambungan saraf otot dan medula spinalis tidak dipengaruhi CPZ.
Farmakokinetik:
Kebanyakan antipsikosis absorbsi sempurna, sebagian diantaranya mengalami metabolisme lintas pertama. Biovailabilitas klorpromazin dan tioridazin berkisar antara 25-35% sedangkan haloperidol mencapai 65%. Kebanyakan antipsikosis bersifat larut dalam lemak danterikat kuat dengan protein plasma(92-99%) serta mamiliki volume distribusi besar ( >7 L/kg). Metabolit klorpromazin ditemukan di urin sampai beberapa minggu setelah pemberian obat terakhir.
Mekanisme kerja:
Obat anti psikosis memblokade dopamine pada reseptor pasca sinaptik neurondi otak, prosesnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (dopamine D2 reseptor antagonis). Obat anti psikosis yang baru (misalnya risperidone) di samping berafinitas terhadap dopamine D2 reseptor juga terhadap serotonin.
Efek samping:
CPZ menghambat ovulasi dan menstruasi. CPZ juga menghambat sekresi ACTH. Efek terhadap sistem endrokin ini terjadi berdasarkan efeknya terhadap hipotalamus. Semua fenotiazin, kecual klozapin enimbulkan hiperprolaktinea lewat penghambatan efek sentral dopamin.batas keamanan CPZ cukup lebar, sehingga obat ini cukup aman. Efek samping umumnyamerupaan perluasan efek farmakodinamiknya. Gejala idiosinkrasi mungkin timbul,berupa ikterus, dermatitis dan leukopenia. Reaksi ini disertai eosinofilia dalam darah perifer.
Kardiovaskular: CPZ dapat menimbulkan hipotensi berdasarkan beberapa hal, yaitu:
· Refleks presor yang penting untuk mempertahankan tekanan darah yang dihambat oleh CPZ.
- CPZ berefek a-bloker.
- CPZ menimbulkan efek intropotik negatif pada jantung.
Derivat etilendiamin
1. Antazolin efek antihistaminnya tidak terlalu kuat tetapi tidak merangsang selaput lendir sehingga cocok digunakan pada pengobatan gejala-gejala alergis pada mata dan hidung.
a) Ripelenamin
digunakan sebagai krem pada gatal-gatal pada alergi terhadap sinar matahari, sengatan serangga dan lain-lain.
b) Mepirin
derivat metoksi dari tripilennamin yang digunakan dalam kombinasi dengan feneramin dan fenilpropanolamin terhadap hypiper.
c) Klemizol
adalah derivat –klor yang hanya digunakan pada salep atau suppositoria antiwasir.
Derivat provilamin
1) Feniramin : Memiliki daya kerja antihistamin dan meredakan efek batuk yang cukup baik.
2) Klorfeneramin : adalah derivat klor dengan daya kerja 10x lebih kuat dan dengan derajat toksisitas yang sama.
3) Deksklorfeneramin : Adalah bentuk dekltronya 2x lebih kuat dari pada bentuk trasemisnya.
4) Tripolidin : Adalah derivat dengan rantai sisi pirolidin yang daya kerjanya agak kuat. Mulai kerjanya pesat dan bertahan
MEKANISME KERJA
Antihistamin
bekerja dengan cara menutup reseptor syaraf yang menimbulkan rasa gatal, iritasi
saluran pernafasan, bersin, dan produksi lendir (alias ingus). Antihistamin ini
ada 3 jenis, yaitu Diphenhydramine, Brompheniramine, dan Chlorpheniramine. Yang
paling sering ditemukan di obat bebas di Indonesia adalah golongan
klorfeniramin (biasanya dalam bentuk klorfeniramin maleat). Antihistamin
menghambat efek histamin pada reseptor H1. Tidak menghambat pelepasan histamin,
produksi antibodi, atau reaksi antigen antibodi. Kebanyakan antihistamin
memiliki sifat antikolinergik dan dapat menyebabkan kostipasi, mata kering, dan
penglihatan kabur. Selain itu, banyak antihistamin yang banyak sedasi.
1. Antihistamin H1
Meniadakan secara
kompetitif kerja histamin pada reseptor H1. Selain memiliki kefek antihistamin,
hampir semua AH1 memiliki efek spasmolitik dan anastetik lokal
2. Antihistamin H2
Bekerja tidak
pada reseptor histamin, tapi menghambat dekarboksilase histidin sehinnga
memperkecil pembentukan histamin jika pemberian senyawa ini dilakukan sebelum
pelepasan histamin. Tapi jika sudah terjadi pelepasa histamin, indikasinya sama
denfan AH 1.
EFEK SAMPING
Pada dosis terapi, semua AH1
menimbulkan efek samping walaupun jarang bersifat serius dan kadang-kadang hilang
bila pengobatan diteruskan. Efek samping yang paling sering ialah sedasi, yang
justru menguntungkan bagi pasien yang dirawat di RS atau pasien yang perlu
banyak tidur.
Tetapi efek ini
mengganggu bagi pasien yang memerlukan kewaspadaan tinggi sehingga meningkatkan
kemungkinan terjadinya kecelakaan. Pengurangan dosis atau penggunaan AH1 jenis
lain mungkin dapat mengurangi efek sedasi ini. Astemizol, terfenadin, loratadin
tidak atau kurang menimbulkan sedasi.
Efek samping yang
berhubungan dengan efek sentral AH1 ialah vertigo, tinitus, lelah, penat,
inkoordinasi, penglihatan kabur, diplopia, euphoria, gelisah, insomnia dan
tremor. Efek samping yang termasuk sering juga ditemukan ialah nafsu makan
berkurang, mual, muntah, keluhan pada epigastrium, konstipasi atau diare, efek
samping ini akan berkurang bila AH1 diberikan sewaktu makan(Meredith,1993)
Efek samping lain yang
mungkin timbul oleh AH1 ialah mulut kering, disuria, palpitasi, hipotensi,
sakit kepala, rasa berat dan lemah pada tangan. Insidens efek samping karena
efek antikolinergik tersebut kurang pada pasien yang mendapat antihistamin
nonsedatif. AH1 bisa menimbulkan alergi pada pemberian oral, tetapi lebih
sering terjadi akibat penggunaan lokal berupa dermatitis alergik. Demam dan
foto sensitivitas juga pernah dilaporkan terjadi. Selain itu pemberian
terfenadin dengan dosis yang dianjurkan pada pasien yang mendapat ketokonazol,
troleandomisin, eritromisin atau lain makrolid dapat memperpanjang interval QT
dan mencetuskan terjadinya aritmia ventrikel.
Hal ini juga dapat
terjadi pada pasien dengan gangguan fungsi hati yang berat dan pasien-pasien
yang peka terhadap terjadinya perpanjangan interval QT (seperti pasien
hipokalemia). Kemungkinan adanya hubungan kausal antara penggunaan antihistamin
non sedative dengan terjadinya aritmia yang berat perlu dibuktikan lebih
lanjut.
Turunan Fenotiazin
Fenotiazin adalah antagonis dopamin dan bekerja sentral dengan cara menghambat chemoreseptor trigger zone. Obat ini dipakai untuk profilaksis dan terapi mual dan muntah akibat penyakit neoplasia, pasca radiasi, dan muntah pasca penggunaan obat opioid, anestesia umum, dan sitotoksik. Efek sedasi proklorperazin, ferfenazin, dan trifluoperazin lebih rendah dibanding klorpromazin. Reaksi distonia berat kadang-kadang muncul pada pemakaian fenotiazin, terutama pada anak-anak. Obat antipsikotik lainnya, termasuk haloperidol dan levomepromazin (metotrimeperazin) dan juga digunakan untuk meringankan gejala mual. Obat turunan fenotiazin ini bekerja sebagai antagonis dari reseptor D2 karena afinitasnya yang tinggi pada reseptor ini. Penghambatan pada reseptor D2 memberikan efek terhalangnya jalur dopaminergik pada otak terutama pada jalur mesocortical, nigrostriatal dan tuberoinfundibular yang menghasilkan efek terapeutik dan efek samping dari penggunaan obat antipsikotik. Beberapa fenotiazin mempunyai sifat antihistamin yang kuat (hidroksizin dan prometazin).
Struktur
Reseptor H1
Ikatan histamin
dengan reseptor H1 didapatkan dalam bentuk 3 dimensi, sehingga disimpulkan
bahwa ikatan reseptor H1 dengan histamin/antihistamin merupakan ikatan spesifik
stereo. Beberapa antihistamin seperti cetirizin, loratadin dan levocetirizin
dapat berikatan dengan reseptor H1 dalam ikatan spesifik stereo.
Pertanyaan
:
1.
Apa beda antihistamin dan antialergi?
2.
Bagaimana efek samping dari antihistamin?
3.
Apa beda reseptor H1,H2 dan H3 ?
4.Apa contoh antihistamin non sedatif dan bagaimana efek nya?
5.Bagaimana mekanisme terjadinya reaksi hipersensitivitas?
6. Kapan waktu yang tepat untuk minum obat antihistamin agar tidak terjadi interaksi?
Daftar
Pustaka
Anief,M.1995.Perjalanan Dan Nasib Obat Dalam Tubuh.Yogyakarta:UGM
press.
Meredith,K.1993.Pedoman Pengobatan.Yogyakarta:Esentia
Medica.
Tjay,H.2007.Obat-Obat Penting.Jakarta:Alex media.