ANALGETIKA
Banyak
atau mungkin semua sensasi nyeri disebabkan oleh pembebasan senyawa-senyawa
kimia tertentu oleh stimulus nyeri. Senyawa kimia yang dibebaskan ini dapat
menimbulkan nyeri karena mengekstasi ujung-ujung saraf nyeri (menyerupai brandikinin)
menyebabkan zat lain menimbulkan nyeri misalnya vasodilatasi pembuluh darah
yang menyebabkan migran, menimbulkan kejang otot viseral atau iritasi/kerusakan
jaringan setempat. Hal ini juga tergantung pada serabut saraf yang
menghantarkan impuls nyeri ke korteks sensorik di otak, maka sensasi nyeri
disadari sebagai nyeri yang tajam, menususk atau nyeri yang lebih bersifat
ngilu.
Obat
analgesik adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri dan
akhirnya akan memberikan rasa nyaman pada orang yang menderita. Nyeri adalah
perasaan sensoris dan emosional yang tidak nyaman, berkaitan dengan ancaman
kerusakan jaringan. Rasa nyeri dalam kebanyakan halnya merupakan suatu gejala
yang berfungsi sebagai isyarat bahaya tentang adanya gangguan dijaringan
seperti peradangan,rematik,encok atau kejang otot(Tjay,2007).
Menurut
Anief(1995), berdasarkan aksinya obat-obat analgesik dibagi menjadi 2 golongan
:
1.Analgesik
non opioid(perifer)
Secara farmakologi
praktis dibedakan atas kelompok salisilat(asetosal,diflunisal) dan non
salisilat sebagian besar sediaan-sediaan golongan non salisilat termasuk
derivat arylalkanoat, bekerja pada sistem saraf perifer
2. Analgesik
opioid(analgesik narkotika)
Analgesik opioid
merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat seperti opium dan morfin.
Golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa
nyeri, tetapi semua analgsik opioid menimbulkan adiksi atau ketergantungan,
bekerja pada sistem saraf pusat
Asetosal,
antalgin dan parasetmol merupakan obat golongan analgetik non narkotik yang
berasal dari golongan antiinflamasi non steroid(AINS) yang menghilangkan rasa
nyeri ringan sampai sedang. Obat-obatan dalam kelompok ini memiliki target aksi
pada enzim, yaitu enzim siklooksigenase(cox). Cox berperan dalam sintesis
mediator nyaeri, salah satunya adalah prostaglandin. Mekanisme umum dari
analgetik jenis ini adalah mengblok pembentukan prostaglandin dengan jalan
meginhibisi enzim cox pada daerah yang terluka dengan demikian mengurangi
pembentukan mediator dari nyeri(Meredith,1993).
Mekanisme
kerja obat analgetik merupakan sebuah mekanisme fisiologis tubuh terhadap
zat-zat tertentu. Obat analgetik bekerja di dua tempat utama, yaitu di perifer
dan sentral. Golongan obat AINS bekerja diperifer dengan cara menghambat
pelepasan mediator sehingga aktifitas enzim siklooksigenase terhambat dan
sintesa prostaglandin tidak terjadi. Sedangkan analgetik opioid bekerja di
sentral dengan cara menempati reseptor di kornu dorsalis medulla spinalis
sehingga terjadi penghambatan pelepasan transmitter dan perangsangan ke saraf
spinal tidak terjadi.
Prostaglandin
merupakan hasil bentukan dari asam arakhidonat yang mengalami metabolisme
melalui siklooksigenase. Prostaglandin yang lepas ini akan menimbulkan gangguan
dan berperan dalam proses inflamasi, edema, rasa nyeri lokal dan kemerahan
(eritema lokal). Selain itu juga prostaglandin . meningkatkan kepekaan
ujung-ujung saraf terhadap suatu rangsangan nyeri (nosiseptif).
Enzim
siklooksigenase (COX) adalah suatu enzim yang mengkatalisis sintesis
prostaglandin dari asam arakhidonat. Obat AINS memblok aksi dari enzim COX yang
menurunkan produksi mediator prostaglandin, dimana hal ini menghasilkan kedua
efek yakni baik yang positif (analgesia, antiinflamasi) maupun yang negatif
(ulkus lambung, penurunan perfusi renal dan perdarahan). Aktifitas COX
dihubungkan dengan dua isoenzim, yaitu ubiquitously dan constitutive yang
diekspresikan sebagai COX-1 dan yang diinduksikan inflamasi COX-2. COX-1
terutama terdapat pada mukosa lambung, parenkim ginjal dan platelet. Enzim ini
penting dalam proses homeostatik seperti agregasi platelet, keutuhan mukosa
gastrointestinal dan fungsi ginjal. Sebaliknya, COX-2 bersifat inducible dan
diekspresikan terutama pada tempat trauma (otak dan ginjal) dan menimbulkan
inflamasi, demam, nyeri dan kardiogenesis. Regulasi COX-2 yang transien di
medulla spinalis dalam merespon inflamasi pembedahan mungkin penting dalam
sensitisasi sentral.
Daftar
Pustaka
Anief,M.1995.Perjalanan Dan Nasib Obat Dalam Tubuh.Yogyakarta:UGM
press.
Meredith,K.1993.Pedoman Pengobatan.Yogyakarta:Esentia
Medica.
Tjay,H.2007.Obat-Obat Penting.Jakarta:Alex media.
Pertanyaan
:
1. Apa contoh senyawa
kimia yang menyebabkan rasa nyeri?
2.Apa contoh obat yang
menghambat enzim fosfolipase dan obat yang menghambat enzim
siklooksigenase(cox) ?
3.Adakah ada tingkatan-tingkatan nyeri?
3.Adakah ada tingkatan-tingkatan nyeri?
saya akan mencoba membantu menjawab pertanyaan dari izzaturrahmi point ke 2, obat yang dapat membantu menghambat enzim fosfolipase adalah obat golongan SAID (Steroid Anti Inflamation Drugs)contohnya Dexametason, Prednison, Prednisolon.
BalasHapuskemudian, obat yang dapat menghambat enzim siklooksigenase(cox) adalah obat golongan NSAID (Non Steroid Inflamation Drugs)contohnya Asam Mefenamat, Na diklofenax, Antalgin, Aspirin, Ketoprofen, dll.
semoga membantu :)
terimakasih saudari yesy yang telah membantu memberikan jawaban yang mana jawaban tersebut sangat bermanfaat bagi saya
HapusSaya menambahkan jawaban dari yesy.
HapusSelain obat NSAID, ada obat yang menghambat enzim siklooksigenase 2 (COX 2) secara selektif. Contohnya yaitu celecoxib. Obat ini tidak mempengaruhi pembentukan prostaglandin lambung, sehingga aman digunakan untuk pasien yang memiliki riwayat penyakit asam lambung.
Jawaban nomor 2 yaitu :
BalasHapusbradikinin, serotonin, histamin, asetilkolin dan prostaglandin.
Faktor apa saja yang dapat menyebabkan senyawa kimia dihambat pelepasannya di tubuh dalam menimbukan nyeri?
Hai kak mimi, saya ingin bantu menjawab pertanyaan nomor 1 mengenai senyawa kimia yang menyebabkan rasa nyeri.
BalasHapusKhemis adalah salah satu penyebab nyeri yang ditimbulkan karena adanya kontak dengan zat kimia yang bersifat asam atau pun basa kuat.
Contoh paling sering d temukan adalah bahan kimia d labor yang bersifat iritan seperti :
a) Asam asetat
b) Kalsium oksida
c) Arsen
d) Formaldehid
e) Klorobenzena
f) Etil alcohol
g )Aseton
h) Asam fosfat
Dll
Terimakasih kak suci telah membantu menjawab, jawaban anda sangat bermanfaat bagi saya
Hapusmengenai senyawa kimia yang menyebabkan rasa nyeri dapat juga berasal dari senyawa dalam tubuh
Hapusrasa nyeri timbul karena adanya rangsangan mekanis atau kimiawi yang dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan dan melepaskan zat tertentu yang disebut mediator atau perantara nyeri. Contoh meditor nyeri yaitu bradikinin, histamin, serotonin dan prostaglandin
Rasa nyeri sendiri dapat dibedakan dalam tiga kategori :
BalasHapus- Nyeri ringan contoh : sakit gigi, sakit kepala, nyeri otot, nyeri haid dan lain-lain.
- Nyeri sedang contoh : sakit punggung, migrain, rheumatic.
- Nyeri hebat contoh : kolik/kejang usus, kolik batu empedu, kolik batu
hai puput, apakah setiap nyeri itu obatnya berbeda-beda?
Hapusmenurut saya berbeda karena jika sesorang hanya sakit kepala saja bisa diberikan analgetika non narkotik sepert paramex namun jika nyeri nya sudah tidak dapat ditahan lagi baru lah diberikan analgetika golongan narkotik
Hapushai kak saya mau mencoba menjawab pertanyaan no 1
BalasHapusProstalandin,asetilkolin,bradikinin, serotonin dan histamin.
Halo, saya ingin menambahkan jawaban no 3. Rasa nyeri memiliki tingkatan dari nyeri ringan sampai nyeri berat, dimana penggunaan obat analgetika ditentukan oleh tahap rasa nyeri yang dirasakan, yaitu :
BalasHapusTahap I :a nalgesik non-opiat : AINS
Tahap II : analgesik AINS + ajuvan (antidepresan)
Tahap III : analgesik opiat lemah + AINS + ajuvan
Tahap IV : analgesik opiat kuat + AINS + ajuvan
saya akan menjawab pertanyaan no 2
BalasHapusbradikinin, serotonin, histamin, asetilkolin dan prostaglandin.